Sosial  

Dibina AMMAN, Cerita Perajin Gula Aren di Tongo Raup Keuntungan 4 Juta Per Bulan

Foto : Ibu Nurhasanah, perajin gula aren dari Desa Tongo, memperlihatkan nampan berisi gula semut yang baru dikeluarkan dari mesin pengering oven

SUMBAWA BARAT, Kliksumbawa.com (5 Juli 2026)- Halaman rumah produksi gula merah sederhana berdiri kokoh di Dusun Sejorong, Desa Tongo, Kecamatan Sekongkang, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), Nusa Tenggara Barat (NTB).

Asap tipis masih mengepul dari kompor pagi itu Minggu (30/6/2026). Di sekitarnya, tumpukan kemasan berwarna cerah berjejer rapi.

Adik Ibu Nurhasanah membantu proses produksi

Beragam jenis ada gula semut, gula aren, serbat aren jahe, gula batok dan lain-lain.

Semuanya berasal dari pohon aren, kini berubah menjadi harapan ekonomi bagi warga desa.

Nurhasanah duduk mengaduk air nira di atas tungku. Tangannya yang cekatan terus mengaduk menggunakan sutil kayu.

Ia tinggal di RT 05 RW 03 Dusun Sejorong, Desa Tongo. Nurhasanah kini memimpin kelompok pengrajin gula aren yang terus mengalami peningkatan omset penjualan.

“Alhamdulillah keuntungan kami sekarang bisa mencapai 3 sampai 4 juta per bulan. Kami sudah punya pelanggan tetap,” kata Nurhasanah.

Bersama sang suami, Hasanuddin, ia membesarkan lima anak. Salah satu anaknya telah menamatkan pendidikan sarjana dan SMA.

Nurhasanah masih terus merawat usaha yang kini semakin kokoh berkat pendampingan PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN).

“Alhamdulillah kami sangat terbantu dengan dukungan AMMAN, dari mulai modal, kemasan produk dan pemasaran digital,” cerita Nurhasanah.

“Produk gula aren kami tak hanya dijual langsung, tapi ada lewat online melalui media sosial dan marketplace,” imbuhnya.

Dari Kunjungan Hingga Pelatihan Bersama King Aren

Ia menyebutkan awal mula usaha ini dirintis dari rumah. Semua serba manual dan sederhana.

“Semuanya bermula saat kami kedatangan tamu dari Lombok Utara, tim King Aren selaku mitra pelaksana program AMMAN.

Mereka mengajarkan cara membuat gula semut, sesuatu yang belum pernah kami lakukan sebelumnya,” kenang perempuan usia 46 tahun ini.

Tergerak oleh peluang itu, kelompoknya menyusun proposal permohonan pelatihan ke PT AMMAN.

Pihak perusahaan pun merespons dengan melakukan kajian mendalam terhadap kondisi dan potensi pohon aren di wilayah mereka.

Ia menyebutkan bantuan yang diberikan tidak sekadar menambah jumlah produksi saja.

“AMMAN membantu kami memperbaiki kualitas bahan baku, menciptakan produk turunan baru, meningkatkan omzet, mengajarkan pencatatan keuangan yang benar, hingga memproses sertifikasi halal dan BPOM,” kata Nurhasanah.

Lebih jauh, AMMAN juga membuka jaringan akses pasar dan memberikan bantuan pembangunan rumah produksi lengkap dengan peralatannya.

Pohon Aren Sejuta Manfaat, Nira Melonjak Dua Kali Lipat

Proses Petani Menyadap Nira

Sebelum pendampingan, warga hanya memanfaatkan nira untuk membuat gula batok.

Kini, mata Nurhasanah berbinar menceritakan betapa berharganya setiap bagian pohon aren.

“Kami baru sadar, pohon aren itu sungguh sejuta manfaat. Mulai dari air niranya, buahnya jadi kolang-kaling, daunnya untuk atap, hingga ijuknya bisa diolah menjadi serabut maupun briket bahan bakar.”

Perubahan paling mencolok terjadi pada hasil nira. “Dulu kami hanya mendapatkan sekitar 80 liter nira per hari. Setelah diajarkan cara merawat pohon, membersihkan serabut kering dan pelepah mati dengan benar, kini nira yang didapat mencapai 200 liter setiap harinya. Produksi gula batok pun jadi lebih banyak dan pasokan lebih terjamin,” ujarnya.

Kelompok usahanya mampu memproduksi hingga sepuluh jenis produk turunan gula aren.

Di samping itu, mereka juga dilatih soal pengemasan menarik, pencitraan merek, strategi pemasaran, hingga penghitungan harga jual yang layak.

Proses Pengemasan

Kelompok ini telah memiliki legalitas lengkap dengan Nomor Induk Berusaha (NIB). Hasilnya, omzet penjualan naik signifikan antara 20 hingga 30 persen.

Selera Pasar dan Tantangan Alam

Meski kemajuan sudah terasa, tetap ada hal yang harus dihadapi. “Tantangan terbesar justru dari alam: kadang curah hujan tinggi membuat produksi nira berkurang. Namun soal kualitas produk, kami jaga sebaik mungkin agar tidak menurun,” terang Nurhasanah.

Selain itu, selera pasar masih beragam. “Di pasar desa dan toko kecil, gula batok tetap paling dicari warga. Tapi di toko besar dan pelanggan luar, produk baru seperti gula semut justru lebih laku—karena lebih praktis digunakan. Rasanya tetap sama manis dan alami, tinggal menyesuaikan kebutuhan,” tambahnya.

Mengubah Ekonomi Desa dan Masa Depan Anak

Dampak pendampingan ini meluas ke seluruh Desa Tongo. “Dulu kami harus membeli gula aren dari Lombok, sekarang warga bisa mendapatkan produk sendiri di sini. Petani aren punya penghasilan yang lebih teratur, dan ibu-ibu desa kini memiliki tempat kerja di rumah produksi kami. Setidaknya sebagian warga yang sempat menganggur kini bisa beraktivitas dan menambah wawasan,” ujar Nurhasanah bangga.

Bagi dirinya, ini adalah teladan bagi anak-anaknya. “Kami ingin menunjukkan kepada mereka bahwa dari kekayaan alam di desa sendiri, kita bisa membangun usaha yang layak dan bermanfaat bagi banyak orang.”

Di sela kesibukannya mengurus produksi dan keluarga, Nurhasanah tetap menyempatkan hobi berkunjung ke pantai dan bermain bola sebagai cara menjaga semangat dan kesehatan agar terus berkarya.

Harapannya sederhana namun kuat: “Semoga usaha ini terus berjalan lancar, pasar semakin luas, dan manfaatnya terus dirasakan warga Desa Tongo.”

Dorong Ekonomi Digital, AMMAN Perkuat UMKM Sumbawa Barat

Gelombang kemajuan ekonomi digital kini menyentuh kalangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB). Melalui semangat kolaborasi lintas sektor, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN), salah satu perusahaan tambang tembaga dan emas terbesar di Indonesia, bersama Mastercard meresmikan kemitraan strategis lewat program Mastercard Strive, yang dijalankan oleh Mercy Corps Indonesia.

Kerja sama ini tertuang dalam Kesepakatan Bersama dengan Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat, dengan menempatkan UMKM sebagai pusat perubahan.

Program ini bukan sekadar pelatihan singkat, melainkan pendampingan terpadu yang menggabungkan keterampilan digital, akses layanan keuangan, serta penguatan ekosistem agar UMKM mampu tumbuh mandiri dan berdaya saing tinggi.

Secara nasional, program ini menyasar 300.000 UMKM di berbagai provinsi, termasuk Nusa Tenggara Barat, dengan target 40 persen pesertanya adalah pelaku usaha perempuan.

Komitmen Bangun Pondasi Ekonomi Lokal

Vice President Social Impact AMMAN, Priyo Pramono, menjelaskan bahwa kemitraan ini merupakan bagian tak terpisahkan dari Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) AMMAN yang berkelanjutan, yang berfokus membangun fondasi ekonomi yang kokoh di tingkat desa dan daerah.

“Penguatan UMKM adalah langkah nyata AMMAN mendorong kewirausahaan di KSB, agar pelaku usaha lokal tumbuh menjadi penopang ekonomi sekaligus penggerak pariwisata daerah. Potensi UMKM di sini sangat besar, namun membutuhkan pendampingan untuk meningkatkan kapasitas serta memperkuat ekosistem yang menunjang pertumbuhan mereka,” ujar Priyo.

Sementara itu, Executive Director Mercy Corps Indonesia, Ade Soekadis, menambahkan: “Fokus utama kami adalah membuka akses peluang ekonomi dan layanan keuangan bagi kelompok yang selama ini terpinggirkan, termasuk UMKM. Melalui program ini, kami berkomitmen memberikan dukungan terbaik agar mereka bisa berkembang setara dengan pelaku usaha lain.”

Program Mastercard Strive secara resmi mulai bergulir di KSB pada akhir November 2025, bertepatan dengan rangkaian peringatan hari jadi daerah, dan diawali dengan pelatihan bagi fasilitator lokal.

Tiga Pilar Utama Percepatan Kemajuan

Dukungan bagi UMKM dirancang melalui tiga pilar utama yang saling melengkapi:

1. Go Digital: Memperluas jangkauan pasar melalui pelatihan pemasaran digital, integrasi platform bisnis, serta pemahaman keamanan siber.
2. Get Capital: Membuka akses permodalan lewat edukasi literasi keuangan dan pengenalan produk lembaga jasa keuangan serta skema kredit yang tepat.
3. Ecosystem Strengthening: Memperkuat ekosistem usaha melalui pelatihan berkelanjutan, pendampingan personal, serta pembentukan jejaring antarpelaku usaha.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) KSB, Suryaman, S.STP., menyambut baik inisiatif ini. “Pemerintah daerah bertekad menjadikan UMKM sebagai tulang punggung ekonomi yang mandiri. Sinergi dengan AMMAN dan Mastercard ini datang tepat waktu.

Digitalisasi dan akses permodalan adalah kunci agar produk lokal kita mampu bersaing hingga tingkat nasional maupun global. Kami mendukung penuh program ini, terutama untuk memberdayakan perempuan pelaku usaha,” tegasnya.

Ratusan UMKM peserta akan mendapatkan paket pendampingan menyeluruh, mulai dari pendaftaran ke platform pembelajaran Micromentor, pelatihan pengelolaan keuangan dan tabungan, pemasaran digital, keamanan siber, hingga pengenalan produk keuangan formal. Inisiatif ini diharapkan menjadi investasi transformatif yang mewujudkan ekonomi masyarakat KSB yang lebih tangguh dan berkelanjutan. (KS)

Exit mobile version