Perubahan Iklim Ancaman Tersembunyi Kakatua Jambul Kuning, Peneliti Ingatkan Data Masih Terbatas  

SUMBAWA, Kliksumbawa.com (10 September 2026)— Perubahan iklim terutama fenomena El Nino berpotensi mengancam keberlangsungan kakatua kecil jambul kuning di Taman Nasional Pulau Moyo Satonda. Hal ini disampaikan oleh ahli ekologi hewan Universitas Mataram, Prof. Dr. I Wayan Suana, dalam simposium kakatua kecil jambul kuning Kamis (10/9/2026).

 

Prof. Wayan menjelaskan bahwa dampak iklim dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung, kenaikan suhu berisiko menurunkan tingkat keberhasilan penetasan telur serta memperpanjang masa pengeraman. Secara tidak langsung, perubahan iklim memengaruhi ketersediaan habitat dan pakan burung tersebut.

 

“Perubahan suhu bisa menyebabkan telur susah menetas atau periodenya lebih panjang. Itu belum terkonfirmasi secara mendalam, namun pengaruhnya sangat besar baik terhadap kakatuanya sendiri maupun habitatnya,” ungkapnya.

 

Banyak Data Dasar Masih Belum Tersedia

 

Meski populasi tercatat meningkat dari 51 menjadi 71 ekor, Prof. Wayan mengingatkan bahwa banyak data dasar ekologi yang belum dimiliki. Struktur umur populasi, rasio jantan dan betina, tingkat keberhasilan bertahan hidup dari telur hingga anakan, serta persaingan memperebutkan sarang antarspesies belum diketahui secara pasti.

 

“Asumsi kasar kami dari 51 ekor diperkirakan 25 pasang. Itu sangat kasar. Kita belum tahu berapa yang dewasa, berapa anakan, berapa betina dan jantan. Padahal informasi ini sangat menentukan strategi konservasi,” jelasnya.

 

Persaingan memperebutkan pohon sarang baik antar sesama kakatua maupun dengan spesies lain juga belum dikaji. Siapa yang kalah dan terdorong keluar dari habitat, belum ada datanya.

 

Pemantauan Harus Konsisten dan Berkelanjutan

 

Tim peneliti merekomendasikan pemantauan dilakukan secara konsisten setiap dua tahun sekali pada periode Maret–Mei, sekaligus diupayakan pemantauan tambahan saat musim berkembang biak sekitar bulan Desember. Metode dan titik pantau harus sama agar data dapat dibandingkan secara akurat.

 

“Data ekologi baru akan berbicara banyak jika dilakukan secara berseri dan jangka panjang. Sekali pantau belum cukup untuk menarik kesimpulan tren populasi yang kuat,” tegasnya.

 

Pentingnya Peran Masyarakat dan Ekowisata

 

Faktor manusia dinilai sebagai penentu keberhasilan terbesar sekaligus yang paling sulit dikendalikan. Perubahan perilaku mantan pemburu menjadi penjaga dianggap sebagai pendorong utama penurunan tekanan perburuan. Prof. Wayan menyarankan pengembangan ekowisata berbasis pengamatan burung agar masyarakat secara mandiri menjaga kawasan karena merasakan manfaat ekonomi langsung.

 

“Ketika masyarakat menyadari kawasan ini berharga dan memberi penghasilan, mereka akan menjaga secara otomatis. Dulu terumbu karang dianggap biasa, kini dijaga karena wisata selam memberi manfaat. Prinsip yang sama berlaku untuk kakatua,” pungkasnya.

 

Terkait kemunculan ikan oarfish yang dikaitkan dengan pertanda bencana, Prof. Wayan menegaskan tidak ada hubungan langsung. Ikan laut dalam itu terdampar akibat arus naik atau upwelling, bukan pertanda gempa atau tsunami. Hal ini telah dikonfirmasi melalui penelitian ilmiah. (ks)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *