Kisah Kader Posyandu Bersama PT AMMAN Berhasil Turunkan Stunting di Wilayah Lingkar Tambang Sumbawa Barat

Foto: Suasana pelayanan Posyandu di Desa Bukit Damai, Kecamatan Maluk, di mana para kader dengan sigap melakukan pengukuran berat badan, tinggi badan, hingga lingkar kepala balita

SUMBAWA BARAT, Kliksumbawa.com (5 Juli 2026) -Sembilan ibu dengan telaten menggendong bayi di halaman Posyandu Desa Bukit Damai, Kecamatan Maluk, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Suara tawa balita yang menggenggam tangan sang ibu bercampur pelu keringat tampak ramai pagi itu Sabtu (4/7/2026).

Istiqomah duduk di kursi dengan tenang. Ia mencatat data-data tumbuh kembang anak di buku posyandu.

Sesekali ia menengok ke arah timbangan dan pengukuran tinggi badan sembari menyapa anak yang sedang bermain.

Pakaian yang ia kenakan sederhana, namun senyumnya tak pernah luntur menyapa siapa saja yang datang.

Istiqomah adalah salah satu kader Posyandu yang tengah memantau tumbuh kembang balita. Tugas yang ia jalani dengan dedikasi penuh selama belasan tahun.

“Iya, hari ini sedang ada jadwal posyandu di desa kami,” kata perempuan yang akrab disapa Isti saat ditemui.

Disela perbincangan, Isti menyapa anak-anak yang menunggu bersama sang ibu.

Di sisi kanan, tangan kecil Salwa Humaira menggenggam erat jari ibunya Yuyun Kalsum saat melangkah masuk ke Posyandu desa.

Langkahnya kini lebih tegap, matanya berbinar cerah menyapa Istiqomah kader kesehatan yang sudah menunggu.

“Anak saya Salwa sempat masuk kategori stunting. Saya tidak tahu mau berbuat apa.

Saat usianya menginjak tiga setengah tahun, berat badan Salwa hanya mencapai 10 kilogram di bawah standar pertumbuhan anak seusianya,” kenang Yuyun.

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, terutama dalam 1000 hari pertama kehidupan.

Sebagai ibu yang tinggal di pedesaan, Yuyun masih belum memahami tumbuh kembang dan gizi seimbang.

Ia selama ini hanya memastikan sang anak makan, tanpa memikirkan lebih jauh tentang gizi dan pola asuh.

“Saya juga sempat bingung bagaimana cara menambah berat badan Salwa dalam waktu singkat.

Beruntung anak saya dapat PMT selama 90 hari dengan menu beragam, Salwa selalu lahap makan,” ujarnya.

Dari proses edukasi yang diberikan oleh petugas dan kader Posyandu, ia memahami jenis makanan sehat empat bintang dan pola asuh yang baik bagi tumbuh kembang anak.

Masa sulit itu kini berbuah manis, setelah melewati proses yang panjang selama setahun perubahan mulai terlihat pada Salwa.

“Setiap posyandu, saya bisa tersenyum lebar, berat dan tinggi badan Salwa naik Salwa berhasil bebas dari risiko stunting,” ujarnya.

Menjelang ulang tahun yang kelima pada Agustus 2026, berat badan Salwa telah naik pesat menjadi 16 kilogram.

“Perubahan di timbangan itu bukan sekadar angka, ini adalah bukti nyata keberhasilan upaya bersama memutus rantai stunting di wilayah Maluk,” ucap Isti, kader posyandu yang selalu sigap mendampingi.

Dapur Sehat dan Pelajaran Berharga PMT bagi Ibu

Perkembangan luar biasa Salwa tak lepas dari dukungan Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dan inisiatif Dashat (Dapur Sehat Atasi Stunting) yang berjalan di Desa Bukit Damai.

Program ini digagas AMMAN, Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat dan desa ini, tak hanya menyalurkan asupan bergizi bagi balita, tetapi juga membekali orang tua dengan ilmu yang mengubah cara mereka merawat anak.

“Bukan hanya Salwa yang tumbuh sehat, saya pun belajar banyak hal baru,” ungkap Yuyun Kalsum dengan mata berkaca-kaca.

Melalui sesi parenting class dan penyuluhan rutin, Yuyun kini memahami betul cara menyusun menu harian yang seimbang, termasuk konsep pangan bergizi “4 bintang” yang memadukan karbohidrat, protein, lemak, serta vitamin dan mineral dalam satu piring.

Jika dulu ia sering bingung menentukan makanan apa yang tepat untuk tumbuh kembang anak, maka kini Yuyun bisa mengolah bahan pangan lokal di sekitar rumah menjadi hidangan yang lezat sekaligus memenuhi kebutuhan gizi Salwa.

“Perubahan pola makan ini perlahan namun pasti membangun kekuatan tubuh anak,” ujar Isti.

Kini Salwa lebih lincah bergerak, lebih bersemangat bermain, dan siap menyambut masa masuk ke Taman Kanak-Kanak dengan penuh percaya diri.

Keberhasilan putrinya menjadi alasan kuat bagi Yuyun agar program seperti ini tidak berhenti di sini.

“Masih banyak anak lain di desa kami, terutama yang mengalami stunting, yang membutuhkan dukungan makanan bergizi dan bimbingan seperti yang kami rasakan.

Semoga upaya ini terus berlanjut, agar mereka pun bisa tumbuh sehat, kuat, dan meraih mimpi setinggi langit,” harapnya tulus.

Di halaman Posyandu itu, Salwa berlari kecil mengejar teman sebayanya. Langkah kakinya yang ringan dan tubuhnya yang makin sehat adalah awal dari masa depan yang lebih cerah, bukan hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi generasi Desa Bukit Damai yang mulai bangkit dari keterbatasan gizi.

Di sela jeda istirahat siang, Isti berhenti sejenak dan bercerita tentang perjalanan panjangnya menjaga tumbuh kembang warga, mulai dari bayi, ibu hamil, hingga lansia.

Posyandu Tak Lagi Sekadar untuk Balita

“Banyak yang kira posyandu itu cuma ada sekali seminggu. Padahal kegiatan rutin utamanya itu satu bulan sekali,” ujar Isti akrab disapa membuka percakapan sambil menyeka keringat di pelipis.

Namun di balik jadwal yang terlihat jarang itu, tugasnya justru semakin meluas dan padat.

“Dulu posyandu hanya melayani bayi, balita, dan ibu hamil. Sekarang sudah berubah menjadi Posyandu Keluarga. Remaja, usia produktif, hingga lansia pun bisa datang ke sana untuk pemeriksaan kesehatan,” jelasnya.

Setiap kali hari pelayanan tiba, ada tujuh orang kader yang bersiaga membagi tugas dari pendaftaran, penimbangan, pengukuran, hingga penyuluhan.

Kegiatan tak berhenti saat posyandu selesai. “Setelah pulang dari lokasi posyandu, kami masih lanjut melakukan kunjungan rumah.

Khusus untuk warga yang berisiko seperti yang tensinya tinggi, gula darahnya naik, atau anak yang stunting dan wasting tapi tidak datang saat posyandu,” cerita Isti.

Seluruh data hasil kunjungan ini nantinya dicatat secara teliti dan dimasukkan ke dalam aplikasi yang disediakan oleh pihak Puskesmas agar pemantauan berjalan berkelanjutan.

Jejak Dapur Dashat dan Dukungan PT AMMAN

Ia menceritakan masa-masa awal terlibat dalam Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat) masih sangat melekat dalam ingatannya.

“Saat itu tugas kami selain mengantar Pemberian Makanan Tambahan (PMT) waktu makan siang, juga harus rajin menyampaikan edukasi: apa itu menu empat bintang, pentingnya kebersihan diri dan lingkungan, serta jam istirahat yang cukup bagi anak,” ceritanya.

Ia juga terbiasa duduk berdiskusi dengan para ibu untuk menggali akar masalah jika ada anak yang sulit makan, mulai dari kebiasaan jajan sembarangan hingga pola asuh yang kurang tepat.

Menurutnya, perubahan tidak datang dalam semalam. Isti mengakui masih ada tantangan berat yang dihadapi hingga kini.

“Paling sering kami temui adalah anak yang susah makan, dan ada juga ibu-ibu yang belum telaten mengikuti anjuran,” ujarnya.

Terkadang mereka mengira PMT itu makanan utama, padahal itu sekadar tambahan.

“Jadi kami jelaskan, tidak harus anak makan persis seperti menu yang kami bawa, asalkan di rumah tersedia lauk yang disukai anak namun tetap bergizi,” paparnya.

Masalah kebersihan juga masih menjadi pekerjaan rumah. “Memang sudah jauh lebih baik. Dulu mungkin hampir semua kurang sadar, sekarang dari 100 orang mungkin tinggal 20 persen yang belum sepenuhnya paham pentingnya cuci tangan, air bersih, dan kebersihan alat makan,” ucap Isti dengan nada optimis namun tetap sadar belum selesai sepenuhnya.

Namun ilmu yang didapat dari program Dapur Dashat AMMAN tak pernah ia lupakan.

“Sampai sekarang masih kami terapkan. Di posyandu, setelah pemeriksaan selesai di langkah kelima, kami tetap beri penyuluhan, tanyakan keluhan ibu-ibu,” kata perempuan muda yang mengenyam pendidikan di SMA Islam Sumbawa ini.

Pendampingan pun tak berhenti dan terus terintegrasi: ada dokter, tenaga kesehatan, dan ahli gizi yang hadir saat pelayanan, serta grup pesan khusus posyandu dan grup penanganan stunting tempat ibu-ibu bisa bertanya kapan saja. Bidan desa pun rutin memantau kondisi ibu hamil melalui jalur yang sama.

Dari 33 Kasus Stunting di Maluk Turun Menjadi 8, Cerita Keberhasilan Program

Salah satu perubahan terbesar ada pada pemahaman soal gizi. “Dulu ibu-ibu berpikir yang penting anak kenyang, cukup nasi saja.

Sekarang mereka mulai paham, telur sebaiknya dikonsumsi setiap hari, asal dibarengi sayur dan karbohidrat.

Lebih baik telur segar daripada nugget atau makanan olahan yang kurang jelas gizinya,” jelas Isti.

Pesan tentang kebersihan, jam tidur, dan menu empat bintang terus disampaikan berulang-ulang hingga melekat.

Hasilnya mulai terlihat nyata. “Kami juga melakukan pelayanan cek pertumbuhan berkala. Anak yang terindikasi stunting kami bawa ke layanan RSUD Asy-Syifa untuk diperiksa langsung oleh dokter spesialis anak.

Dulu tercatat ada 33 kasus stunting di wilayah kami, sekarang alhamdulillah tinggal 8 saja,” ucapnya dengan mata berbinar bangga.

Harapan Kader di Ujung Perjuangan

Meski program pendampingan eksternal telah berakhir, semangat Isti dan rekan kader tak padam. Namun, ia masih menyimpan harapan besar agar dukungan tidak berhenti di sini.

“Saya berharap nantinya ada program-program baru yang tidak hanya berfokus pada penyediaan makanan tambahan,” ujarnya.

Selain itu, edukasi dan evaluasi berkala tetap sangat dibutuhkan agar kami tidak berjalan sendirian.

“Kalau bisa, program PMT tidak hanya ditujukan untuk balita saja, tapi juga meluas bagi ibu hamil agar gizi janin pun terjaga sejak dalam kandungan,” kata Isti sambil kembali merapikan catatannya.

Bagi Isti, menjadi kader posyandu bukan sekadar tugas sukarela, melainkan janji untuk menjaga setiap keluarga dari yang paling muda hingga yang paling tua, sampai tidak ada lagi anak yang tumbuh terhambat karena kurang gizi.

Mengenakan atribut Sensus Ekonomi di atas pakaian kadernya, Istiqomah siap memastikan data ekonomi Indonesia akurat, sekaligus terus menjaga kesehatan generasi penerus bangsa.

Isti tetap menyimpan harapan: agar perubahan baik ini terus berlanjut, didukung, dan menjadi milik semua orang.

Dapur Dashat, Peran Koki Lokal Ubah Nasib Anak Stunting di Desa Lingkar Tambang

Dapur sederhana yang kini berubah menjadi pusat kegiatan, aroma bumbu segar berpadu dengan wangi sayuran yang baru diolah.

Mengenakan celmek, Daraia (46) bergerak lincah memotong bahan, menakar bumbu, dan meracik menu khusus.

Tangan yang dulunya terbiasa menyajikan hidangan untuk pekerja di perusahaan sub kontraktor tambang, kini menyalurkan keahliannya untuk satu misi mulia: memastikan tidak ada lagi anak di desanya yang tumbuh terhambat akibat kurang gizi.

Berbekal pengalaman puluhan tahun sebagai koki profesional, Daraia kini menjadi tulang punggung penurunan angka stunting di Desa Bukit Damai, yang mencakup empat dusun termasuk Dusun Mekar Sari.

Ibu Daraia, salah seorang kader DASHAT (Dapur Sehat Atasi Stunting), sedang memberikan penjelasan mengenai tata cara memasak dan mengolah bahan pangan sehat yang kaya nutrisi di dapur

Ia pernah mengabdi sebagai koki di PT Satria Bahari, PBU, hingga AJC dan bahkan mendapat sertifikat khusus saat melayani pekerja asal Jepang,

“Dulu angka stunting di desa ini masih belasan anak. Sekarang? Alhamdulillah sudah jauh menurun,” ujar Daraia dengan senyum lebar.

Perubahan ini tidak terjadi dalam semalam. Semuanya bermula pada tahun 2022, saat AMMAN bersama Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat dan warga membangun dapur sehat berbasis masyarakat atau Dashat untuk penanganan stunting.

Sebagai kader PKK, Ibu Daraia ditunjuk memimpin gerakan ini. Ia mengumpulkan kader-kader lain, bekerja sama dengan dukungan dari pihak Yayasan Care dan AMMAN.

Meski pernah merasakan jalan berliku pada fase awal. “Kendala terbesar justru dari orang tua sendiri. Banyak yang tidak terima jika anaknya disebut stunting. Merasa tersinggung, belum paham soal dampaknya,” kenangnya.

Berkat kesabaran dan motivasi yang diberikan oleh tim Yayasan Care Peduli dan AMMAN, perlahan orang tua mulai terbuka hatinya dan mau menerima bantuan makanan serta arahan gizi.

“Dulu banyak ibu-ibu yang belum paham: menu anak itu tidak cuma kenyang, tapi harus lengkap nutrisinya. Harus ada karbohidrat, ada telur, ada tempe, ikan, daging, dan ada sayur.

Kebiasaan memberi sosis, makanan instan, atau sekadar nasi saja masih kental. Setelah kami dampingi dan berikan contoh, akhirnya mereka paham,” jelasnya.

Akali Sayur Jadi Bentuk Kesukaan Anak

Keahlian Daraia mengolah makanan menjadi kunci utama. Ia mengajarkan trik sederhana namun ampuh: jika anak tidak suka sayur, ubah bentuknya!

“Kami jelaskan ke ibu-ibu: sayur bukan harus dimakan seperti di piring. Bisa dijadikan nugget, perkedel, atau bentuk lain. Kelor, bayam, hingga sayuran lain bisa dicampur, dibentuk pakai cetakan lucu dan menarik seperti ada bentuk udang, kepiting, atau bentuk hewan lain. Jadi anak tertarik tanpa sadar sedang makan sayur,” ceritanya.

Ragam jenis menu juga disesuaikan dengan kebutuhan. “Untuk bayi usia 6 bulan hingga satu tahun kami siapkan khusus.

Pernah ada anak di Gang Mangga yang dari lahir sulit makan, kami blender semua bahan gizinya. Alhamdulillah sekarang anak itu gemuk dan tumbuh sehat,” ujar Daraia sembari tersenyum.

Dari proses itu, hasilnya mulai terlihat: banyak anak yang dulunya masuk kategori stunting kini “lolos” dan tumbuh berisi. Bahkan muncul ibu-ibu yang sangat bersemangat, tak segan berbagi pengalaman ke tetangga lain demi menyelamatkan tumbuh kembang anak-anak desa.

Dapur Dashat Kini Menjadi Usaha Mandiri

Program pendampingan Yayasan Care dan PT AMMAN telah berakhir, namun semangat tidak berhenti. Daraia yang pernah menjabat sebagai Agen Gotong Royong selama delapan bulan kini mengembangkan Dapur Dashat menjadi catering mandiri.

Meski sebelum terlibat program, ia memang sudah memiliki usaha katering rumahan.

“Ilmu yang didapat dari Care dan AMMAN sangat berharga. Mulai dari cara meracik gizi seimbang, kebersihan, hingga presentasi makanan. Orang-orang dari PT AMMAN pun pernah turun langsung melihat dapur saya,” ujarnya.

Ia juga menyadari bahwa dirinya tidak berjalan sendirian. “Sama seperti di Desa Maluk, ada Mbak Angel dan Mbak Isti—mereka juga Agen Gotong Royong seperti saya. Kita saling berbagi cerita dan pengalaman,” tuturnya.

Meskipun sempat ditawari bergabung dalam proyek MBG dan sudah menyiapkan CV-nya, langkah itu tertahan karena izin suami. Namun ia tak menyesal: anaknya kini bekerja di PT Vektor dan McMahon area tambang PT AMMAN, sementara ia tetap memilih berkarya di rumah sebagai koki di catering.

Program Diharapkan Berlanjut, Ibu Rumah Tangga Tetap Berdaya

“Saya memang suka masak, sudah dari gadis. Tapi memberi makan orang lain dengan tujuan menyelamatkan generasi penerus, itu kepuasan tersendiri,” ujarnya lembut namun tegas.

Di akhir cerita, Daraia menyampaikan harapan besar: “Seandainya program seperti ini bisa berlanjut lagi, itu sangat bagus.

Apalagi ibu rumah tangga di sini sangat mendukung dan bersemangat. Dengan Dapur Dashat, kita tidak hanya selesaikan masalah gizi, tapi juga membuka peluang ekonomi bagi warga desa,” ujarnya.

Sinar matahari sore menyinari dapur itu. Di meja, tumpukan sayuran segar siap diolah menjadi hidangan yang tak sekadar lezat tapi penuh harapan agar tidak ada lagi anak di Bukit Damai yang tertinggal dan terkena stunting.

Turunkan Stunting dan Perlindungan Anak, Kontribusi PT AMMAN di Sumbawa Barat

Upaya percepatan penurunan stunting di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) mencatatkan capaian gemilang, menjadikan wilayah ini sebagai daerah dengan angka stunting terendah di Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Keberhasilan ini tak lepas dari peran aktif PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) yang mengintegrasikan penanganan gizi dengan perlindungan anak di wilayah lingkar tambang.

Sebagai salah satu perusahaan tambang emas dan tembaga terbesar di Indonesia, AMMAN menjangkau 436 anak di sekitar area operasi yang masuk kategori stunting, kurus, dan kurang gizi berat melalui Program Percepatan Penurunan Stunting.

Hasilnya nyata: sebanyak 32 persen anak berhasil pulih dari kondisi stunting, sementara peningkatan berat badan normal mencapai kisaran 86 hingga 98 persen.

“Bagi kami, perlindungan anak adalah fondasi utama tatanan masyarakat yang kuat. Fokus kami bukan hanya pada aspek ekonomi, melainkan memastikan masa depan generasi penerus.

Kami berkomitmen mewujudkan Sumbawa Barat bebas dari kehilangan potensi anak akibat perkawinan dini maupun kekerasan,” ujar Vice President Social Impact AMMAN, Priyo Pramono.

“Dengan memperkuat kebijakan desa dan melatih tenaga pendamping hukum masyarakat, kami membangun benteng sekaligus jembatan bagi mimpi anak-anak ini,” tambahnya.

Dukungan Menuju Kabupaten Layak Anak

Kombinasi penanganan gizi dan penguatan perlindungan anak turut membawa KSB meraih predikat Kabupaten Layak Anak tingkat Madya pada tahun 2025.

Dukungan AMMAN mencakup fasilitasi penerbitan Peraturan Desa tentang Perlindungan Perempuan dan Anak (Perdes DRPPA) di 16 desa, pelatihan bagi 78 kader paralegal, serta pembinaan 29 fasilitator anak.

“Iya, PT AMMAN membantu kami di wilayah kecamatan dan desa lingkar tambang dalam upaya bersama menuju Kabupaten Layak Anak,” kata Kabid Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak DP2KBP3A KSB, Ermawati SKM, MMKes.

Model keberhasilan ini terus dilakukan Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat ke 18 desa lainnya menggunakan alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes).

Ermawati menegaskan Kabupaten Layak Anak hanya bisa terwujud jika berjalan bersama.

“Kami berkoordinasi erat dengan Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan untuk sekolah ramah anak, Dinas Perhubungan untuk Rute Aman Selamat Sekolah (RASS), Kesbangpol, Kemenag, hingga aparat hukum.

Dukungan dan kontribusi nyata PT AMMAN juga memperkuat pondasi perlindungan anak di KSB ini,” jelasnya.

Pencegahan risiko jangka panjang juga dilakukan melalui program Lingkar Remaja yang telah menjangkau 426 siswa tingkat SMP dan SMA.

Materi yang disampaikan meliputi kesehatan reproduksi, pencegahan anemia, dan pemberdayaan remaja perempuan agar terhindar dari perkawinan dini.

Raih Apresiasi Gubernur NTB

Atas kontribusi nyata tersebut, AMMAN menerima penghargaan khusus dari Gubernur Nusa Tenggara Barat Lalu Muhammad Iqbal dalam Forum Inspirasi Daerah BERANI II, bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun NTB.

“Penghargaan ini adalah pengakuan atas komitmen nyata AMMAN. Pendekatan yang dilakukan berupa pemantik, sistematis, terintegrasi, dan terlembagakan melalui Perdes DRPPA hingga ke tingkat desa adalah model kolaborasi yang luar biasa.

Ini kunci memutus rantai perkawinan anak dan menjamin masa depan generasi mendatang,” tegas Gubernur Iqbal.

Program ini berjalan berkat kerjasama sinergis antara AMMAN, Pemerintah Daerah, serta mitra strategis seperti Yayasan CARE Peduli, Lembaga Perlindungan Anak NTB, dan konsorsium lembaga internasional UNICEF, UNFPA, serta UN Women.

Tim Pendamping Keluarga Jangkau Kelompok Berisiko

Percepatan penurunan stunting di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) didukung pembentukan Tim Pendamping Keluarga (TPK) yang telah tersebar di seluruh desa di wilayah ini. Inisiatif ini digagas Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) KSB untuk memperluas jangkauan intervensi hingga ke tingkat paling dasar.

Kepala Bidang Pengendalian Penduduk dan Keluarga Sejahtera (P2KS), Satria, menjelaskan jumlah tim disesuaikan dengan luas wilayah masing-masing desa, umumnya setiap desa memiliki dua kelompok tim.

“Satu tim terdiri dari tiga unsur: tenaga kesehatan (bidan atau perawat), perwakilan PKK/Ibu Kepala Desa/Ibu Lurah, serta kader Keluarga Berencana. Bidan memimpin aspek pendampingan kesehatan, PKK memastikan ketersediaan dukungan dan bantuan bagi keluarga, sedangkan kader KB memasukkan data ke dalam aplikasi SIGA Mobile,” jelas Satria.

Pendampingan tidak hanya menyasar keluarga yang sudah terindikasi stunting, melainkan mencakup empat kelompok sasaran utama: remaja dan calon pengantin, ibu hamil, ibu pasca salin, serta seluruh balita—baik yang berisiko maupun yang belum berisiko mengalami stunting.

Tren Penurunan Lampaui Target

Upaya ini membuahkan hasil nyata dengan tren penurunan angka stunting konsisten dan melampaui sasaran yang ditetapkan. Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024, prevalensi stunting di KSB mencapai 18,2 persen—menjadikannya wilayah dengan angka terendah di Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Perkembangan selanjutnya menunjukkan pencapaian yang lebih baik. Data Sistem Informasi Gizi dan Kesehatan Keluarga (Sigizikesga) hingga Agustus 2025 mencatat prevalensi stunting sebesar 6,92 persen, angka ini telah melampaui target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) tahun 2025 yang ditetapkan sebesar 7,06 persen.

Sementara data aplikasi e-PPGBM terlihat penurunan berkelanjutan dari 7,10 persen pada Desember 2025 turun menjadi 6,7 persen pada Mei 2026.

Dari 710 balita yang menjadi sasaran penanganan stunting pada tahun 2025, sebanyak 64,08 persen telah mendapatkan penanganan melalui sistem rujukan; 26,95 persen menolak dirujuk; 6,62 persen telah pulih ke kondisi normal; dan 2,39 persen berhenti dalam proses pendampingan.

Seluruh data ini menjadi dasar evaluasi untuk memperkuat intervensi dan penyempurnaan program ke depan.

Wabup KSB Minta Pastikan Data Presisi

Wakil Bupati Sumbawa Barat, Hanipah, meminta seluruh jajaran mulai dari tingkat kecamatan hingga desa untuk memastikan ketepatan data sasaran penanganan.

“Intervensi harus didasari data yang akurat. Camat, lurah, kepala desa, hingga kader posyandu wajib mengetahui secara pasti berapa jumlah sasaran yang telah dikunjungi dan tercatat di wilayah kerjanya masing-masing,” tegas Hanipah.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan KSB, dr. Carlof, menegaskan penanganan stunting merupakan tantangan besar yang harus diselesaikan bersama melalui pendekatan pentahelix yang melibatkan seluruh sektor dan pemangku kepentingan.

“Upaya pencegahan maupun penanganan khusus harus terus diperkuat berbasis data, evaluasi berkala, dan langkah tindak lanjut yang terukur,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya menjaga tren penurunan ini agar tidak kembali naik. Pertemuan evaluasi ini juga berfungsi menyatukan pemahaman mengenai prosedur penanganan klinis, serta memperkuat peran Puskesmas dan Rumah Sakit dalam memberikan pelayanan lanjutan.

Anak-anak sedang bermain pasir di Pantai Maluk

Dari piring bergizi dan senyum kader posyandu seperti Isti di Desa Bukit Damai Kecamatan Maluk, inilah bukti bahwa tanggung jawab sosial AMMAN berbuah manis saat stunting menurun, anak-anak tumbuh sehat, dan terwujudnya generasi emas maju di Kabupaten Sumbawa Barat.(ks)

Exit mobile version