Melampaui Batas, AMMAN Hadirkan Transformasi Metalurgi Hingga Energi Terbarukan di Tambang Batu Hijau

Foto : Tangki Kondisioner  yang dipasangi sistem kontrol CPS

SUMBAWA BARAT, Kliksumbawa.com (8 Juli 2026)- Saat dunia menuntut praktik industri tambang yang ramah lingkungan, AMMAN hadir sebagai bukti nyata yang bertanggung jawab.

Di tengah dinamika yang berkembang, perusahaan tak pernah lepas dari pegangan utama yaitu keberlanjutan yang transformatif dalam pemurnian mineral.

Tim metalurgi tambang Batu Hijau Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB) melahirkan inovasi pengolahan tembaga yang kini diakui dunia.

Dari sini hasilnya lebih banyak, bahan kimia lebih hemat, dan dampak lingkungan lebih kecil. Ini bukti teknologi cerdas dan langkah hijau bisa berjalan beriringan.

Sosok di balik keberhasilan ini adalah Didit beserta rekan-rekannya di tim Metalurgi.

Didit Tim Metallurgy PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) bersama rekan

Setiap hari Didit dan tim bekerja keras mencari cara agar kandungan tembaga dapat diambil sebanyak mungkin dari bijih mineral, terutama dari tumpukan persediaan atau stockpile yang telah lama disimpan.

Bijih di lokasi ini telah mengalami proses oksidasi sehingga kualitasnya menurun dan sulit diolah secara optimal.

Masalah ini bukan hal sepele. Semakin rendah tingkat pemulihan atau recovery tembaga, semakin besar pula potensi kerugian ekonomi karena mineral berharga ikut terbuang bersama limbah sisa pengolahan.

Namun, tantangan itulah yang justru melahirkan inovasi yang kini menjadi kebanggaan.

“Kami melihat ada potensi yang terbuang sia-sia. Padahal, setiap butir mineral itu berharga. Kami tidak ingin ada sumber daya yang terbuang hanya karena keterbatasan metode,” ujar Didit saat dikonfirmasi awal Juli 2026.

Selain itu, penggunaan bahan kimia yang berlebih juga beban bagi lingkungan.

“Jadi, kami ingin solusi yang menguntungkan dua sisi: hasil lebih banyak, dampak lingkungan lebih kecil,” cerita Didit.

Tim AMMAN kemudian mengembangkan metode bernama Controlled Potential Sulfidisation (CPS) yang dipadukan dengan sensor Oxidation Reduction Potential (ORP).

Ia menyebutkan teknologi ini memungkinkan kondisi kimia bahan olahan dipantau secara langsung atau real-time, sehingga takaran bahan kimia yang digunakan dapat diatur dengan sangat tepat sasaran.

Hasil yang dicapai pun sangat menggembirakan. Tingkat pemulihan tembaga meningkat secara nyata, sementara penggunaan bahan kimia justru turun hingga 18,3 persen.

“Artinya, perusahaan mampu memproduksi lebih banyak tembaga dengan biaya operasional yang lebih rendah, sekaligus menekan beban lingkungan, selaras dengan upaya penerapan energi bersih dan efisiensi sumber daya di seluruh jaringan fasilitas AMMAN, termasuk smelter di Sumbawa Barat,” ujarnya.

Didit menggambarkan proses ini layaknya memasak dengan bumbu yang harus pas takarannya.

Jika dosis reagen terlalu sedikit atau berlebihan, hasilnya tidak akan maksimal. Berkat bantuan sensor ORP, proses pemisahan mineral menjadi jauh lebih akurat sehingga tembaga lebih mudah diambil dari bahan olahannya.

“Kalau dulu kita seperti menebak-nebak atau memperkirakan saja, sekarang kita punya ‘mata’ yang melihat langsung kondisi di dalam cairan itu. Kalau sudah pas, kita hentikan. Kalau kurang, kita tambah sedikit saja.

Presisi itulah kuncinya,” jelas Didit dengan antusias. “Saat angka efisiensi itu keluar, kami semua merasa lelah selama berbulan-bulan percobaan terbayar lunas,” jelasnya.

Prestasi ini kemudian dibawa ke panggung dunia melalui konferensi metalurgi internasional MetPlant 2026 di Adelaide, Australia.

Di forum bergengsi yang mempertemukan para ahli pengolahan mineral dari seluruh dunia, karya ilmiah tim AMMAN sukses meraih penghargaan “Makalah Terbaik” atau Best Paper.

Pengakuan internasional tersebut menjadi bukti bahwa inovasi kelas dunia tidak harus lahir dari pusat-pusat teknologi di negara maju.

Dari tanah Sumbawa Barat, para talenta lokal mampu menunjukkan bahwa mereka bisa bersaing di level tertinggi industri pertambangan global, sambil terus mendukung langkah perusahaan menuju operasi yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

“Saat nama kami disebut sebagai pemenang, rasanya luar biasa bangga. Bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk rekan-rekan tim yang bekerja keras, dan tentu saja untuk Sumbawa serta Indonesia,” kenang Didit.

“Ini adalah bukti bahwa semangat lokal dari Sumbawa Barat bisa menghasilkan karya teknis yang diakui secara global,” tambahnya.

Ia menilai budaya kerja yang terbuka terhadap pembaruan serta dukungan penuh dari perusahaan menjadi faktor utama lahirnya terobosan ini, yang kini menjadi bagian penting dari perjalanan AMMAN menuju industri pertambangan yang lebih hijau dan efisien.

“Kami tahu kedepan tantangan lingkungan akan semakin besar. Lewat teknologi sederhana namun terukur seperti ini.

Kami ingin berkontribusi: memastikan setiap langkah produksi kami juga merupakan langkah menjaga bumi,” harap Didit.

AMMAN Beralih ke Energi Hijau

Langkah transisi hijau AMMAN dapat dilihat dari upaya menekan jejak karbon melalui diversifikasi sumber energi.

Di kawasan Batu Hijau, perusahaan telah mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 26,8 megawatt peak (MWp)—salah satu instalasi tenaga surya terbesar yang dibangun khusus untuk mendukung operasional tambang di Indonesia.

Langkah ini diperkuat dengan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) berkapasitas 450 megawatt, yang menjadi jembatan transisi energi untuk menekan emisi secara signifikan dibandingkan penggunaan pembangkit berbasis batu bara.

Tidak berhenti pada pasokan energi, efisiensi juga diterapkan di lini produksi: salah satunya melalui penggantian komponen liner pada SAG Mill guna menurunkan intensitas pemakaian energi saat pengolahan bijih mineral.

Inovasi ramah lingkungan juga merambah pengelolaan limbah. Limbah kardus yang dulunya dikirim ke pihak ketiga kini dimanfaatkan kembali sebagai mulsa organik untuk kegiatan reklamasi lahan—sebuah langkah yang lebih hemat biaya sekaligus menerapkan prinsip reduce, reuse, recycle secara nyata.

“Pencapaian Proper Hijau ini adalah manifestasi atas integritas AMMAN dalam menerapkan praktik operasional yang bertanggung jawab dan berkelanjutan. Kami meyakini bahwa keberlanjutan merupakan investasi strategis jangka panjang.

Oleh karena itu, komitmen kami tidak berhenti pada pemenuhan kepatuhan, tetapi terus mendorong inovasi untuk menciptakan dampak positif yang terukur bagi lingkungan dan masyarakat di wilayah operasional kami,” ungkap Vice President Corporate Communications AMMAN, Kartika Octaviana.

AMMAN Raih Proper Hijau

PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) kini membuktikan bahwa kemajuan industri tambang dapat berjalan beriringan dengan kelestarian alam.

Langkah besar perusahaan dalam beralih menuju energi bersih menjadi salah satu pilar utama yang mengantarkan perusahaan meraih predikat Proper Hijau 2026 dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).

Penghargaan ini bukan sekadar bukti kepatuhan, melainkan pengakuan atas praktik pengelolaan lingkungan yang melampaui standar yang ditetapkan pemerintah.

Predikat bergengsi ini dikukuhkan dalam ajang Anugerah Lingkungan Proper pada 7 April 2026 di Jakarta.

Hal ini menjadi tolok ukur keberhasilan AMMAN menerapkan prinsip beyond compliance, melakukan lebih dari sekadar apa yang diwajibkan aturan baik dalam pengelolaan lingkungan maupun pemberdayaan masyarakat sekitar.

Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menegaskan, pencapaian ini diharapkan menjadi pemicu bagi seluruh pelaku industri untuk terus meningkatkan standar keberlanjutan.

“Pencapaian ini diharapkan tidak hanya menjadi sebuah penghargaan, tetapi juga menjadi momentum untuk semakin meningkatkan kualitas ketaatan terhadap lingkungan hidup secara berkelanjutan.

Penting untuk diingat bahwa instrumen Proper ini bukan sekadar penilaian teknis, melainkan sebuah bentuk kepercayaan dan kedaulatan negara yang harus kita jaga bersama demi mendorong kinerja industri yang lebih hijau dan bertanggung jawab,” ujar Hanif melalui keterangannya, Jumat (10/4/2026).

Dari Konservasi Hingga Kesejahteraan Warga

Komitmen menjaga lingkungan tidak dibatasi hanya di area tambang. AMMAN juga mengelola kawasan konservasi di delapan pulau di wilayah Gili Balu, barat laut Pulau Sumbawa.

Di sana, program berjalan mulai dari pembangunan terumbu karang buatan, perlindungan penyu, hingga pemantauan keanekaragaman hayati bawah laut, sekaligus melibatkan warga dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan.

Di daratan Sumbawa Barat, manfaat keberlanjutan juga dirasakan langsung oleh masyarakat. Di Kecamatan Sekongkang, lebih dari 125 keluarga kini terlibat dalam pengolahan sampah organik menjadi produk bernilai jual.

Hingga tahun 2025, puluhan ribu kilogram sampah berhasil dikelola, menciptakan pendapatan tambahan sekaligus mengubah pola pikir warga menjaga lingkungan. Program persemaian berbasis masyarakat juga turut memberdayakan warga menyediakan bibit pohon untuk reklamasi lahan.

Pengakuan di Tengah Perluasan Pengawasan Nasional

Penghargaan Proper Hijau yang diraih AMMAN merupakan bagian dari penilaian Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup tahun 2026.

Tahun ini, KLH menilai kinerja lingkungan dari 5.476 perusahaan di 299 sektor—naik 22 persen dibanding tahun sebelumnya. Sebanyak puluhan perusahaan meraih Proper Emas, dan 243 perusahaan lainnya termasuk AMMAN memperoleh Proper Hijau.

Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLH, Rasio Ridho Sani, menjelaskan bahwa Proper berfungsi sebagai alat pengawasan sekaligus pembinaan.

Hasil penilaian ini dipublikasikan secara luas sebagai bentuk transparansi kepada masyarakat. Dari total perusahaan yang dinilai, 2.437 dinyatakan taat aturan, 2.886 belum memenuhi ketentuan, dan 153 perusahaan tidak beroperasi.

Bagi AMMAN di Batu Hijau, Proper Hijau adalah transisi menuju energi bersih dan praktik ramah lingkungan bukan sekadar wacana, melainkan langkah nyata yang membawa manfaat bagi alam, masyarakat, dan keberlangsungan industri itu sendiri.(KS)

Exit mobile version