Kre Alang Sumbawa Mendunia, Putri Mahkota Swedia Victoria Disambut dengan Tenun Khas Sumbawa

MATARAM,Kliksumbawa.com (8 September 2026) Kekayaan budaya Sumbawa kembali mendapat panggung istimewa di tingkat internasional. Putri Mahkota Swedia, Victoria Ingrid Alice Désirée, dalam kunjungannya ke Nusa Tenggara Barat (NTB), mendapat sambutan kehormatan dengan pengalungan Kre Alang, kain tenun khas Sumbawa.

Momen tersebut berlangsung dalam rangkaian kunjungan Putri Mahkota Swedia ke NTB pada 57 September 2026, yang menjadi momentum penting untuk memperkenalkan kekayaan budaya, produk UMKM lokal, pemberdayaan perempuan serta komitmen terhadap kelestarian lingkungan ke kancah global.

Kehadiran Putri Mahkota Victoria diterima oleh Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal bersama jajaran Pemerintah Provinsi NTB. Dalam suasana penyambutan yang penuh kehangatan, kain tenun khas Sumbawa turut menjadi bagian dari penghormatan budaya kepada tamu kehormatan dari Kerajaan Swedia tersebut.

Yang membanggakan, Kre Alang yang dikalungkan kepada Putri Mahkota Victoria mendapat apresiasi langsung dari sang Putri. Keindahan kain, motif serta karakter tenun khas Sumbawa menjadi perhatian dalam momen penyambutan tersebut. Apresiasi langsung tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Sumbawa, khususnya para perajin tenun yang selama ini secara konsisten menjaga warisan budaya dan keterampilan menenun yang diwariskan secara turun-temurun.

Ketua Dekranasda Kabupaten Sumbawa, Hj. Ida Fitria Jarot, SE, menyampaikan rasa bangga atas tampilnya Kre Alang dalam momen penyambutan Putri Mahkota Swedia. Menurutnya, pengalungan Kre Alang bukan sekadar seremoni, tetapi merupakan bentuk penghormatan sekaligus kesempatan memperkenalkan identitas budaya Sumbawa kepada dunia.

Kami tentu sangat bangga. Kre Alang bukan hanya selembar kain, tetapi merupakan identitas dan warisan budaya masyarakat Sumbawa. Ketika kain khas Sumbawa dikalungkan kepada Putri Mahkota Swedia dan mendapat apresiasi langsung dari beliau, tentu menjadi kebanggaan luar biasa bagi Tau Samawa, ujar Hj. Ida Fitria Jarot.

Ia menilai apresiasi tersebut menunjukkan bahwa karya para perajin Sumbawa memiliki daya tarik dan nilai yang dapat diterima di tingkat internasional.

di balik keindahan sehelai kain tenun terdapat kerja keras, kreativitas dan ketekunan para perempuan Sumbawa. Karena itu, pengembangan tenun tidak hanya berkaitan dengan pelestarian budaya, tetapi juga berkaitan erat dengan pemberdayaan perempuan dan peningkatan ekonomi keluarga. Karena itu, tampilnya Pabasa dalam penyambutan Putri Mahkota Swedia dinilai menjadi momentum strategis untuk memperlihatkan bahwa produk budaya lokal dapat menjadi bagian dari diplomasi budaya sekaligus ekonomi kreatif.

Ini bukan hanya tentang kain yang dipakai atau dikalungkan. Di dalamnya ada cerita tentang perempuan Sumbawa, tentang tradisi, tentang ketekunan dan tentang bagaimana budaya dapat menjadi kekuatan ekonomi masyarakat, lanjutnya.

Ia berharap perhatian terhadap tenun Sumbawa semakin meningkat setelah momen tersebut.

Semoga momen ini menjadi penyemangat bagi generasi muda Sumbawa untuk mencintai budaya daerahnya. Kita ingin Pabasa tidak hanya menjadi warisan masa lalu, tetapi menjadi warisan yang terus hidup, berkembang dan mampu membawa nama Sumbawa ke panggung dunia, pungkas Hj. Ida Fitria Jarot. (ks)

Exit mobile version