Oleh: Bambang Supriadi, Pemerhati Lingkungan
Musim kering tidak selalu harus identik dengan rumput menguning, pepohonan meranggas, dan lingkungan yang berdebu. Hal itu terlihat di MTsN 2 Sumbawa Barat. Di tengah kondisi musim kering yang berlangsung saat ini, lingkungan sekolah tetap tampak hijau, asri, dan terawat.
Kondisi tersebut tidak terjadi begitu saja. Perawatan tanaman dan pemanfaatan air untuk menyiram ruang terbuka hijau menjadi bagian dari aksi lingkungan yang dilakukan secara konsisten oleh sekolah.
Saat ini MTsN 2 Sumbawa Barat saat ini tengah mengikuti program Sekolah Adiwiyata Nasional, setelah sebelumnya memperoleh penghargaan Adiwiyata Kabupaten Sumbawa Barat tahun 2025. Berbagai program lingkungan dikembangkan secara terencana dengan melibatkan guru, siswa, serta warga sekolah lainnya.
Salah satu perhatian utama sekolah pada musim kering adalah menjaga tanaman dan rumput agar tetap hidup dan terpelihara. Meskipun ketersediaan air menjadi faktor pembatas akibat rendahnya debit air sumur, sekolah tidak kehilangan akal. Untuk memenuhi kebutuhan penyiraman, sekolah memanfaatkan air sungai yang dipompa ke area halaman untuk menyiram dan mengairi rumput. Upaya ini menjadi bentuk adaptasi terhadap kondisi kekeringan sekaligus wujud komitmen sekolah dalam menjaga kelestarian dan kehijauan lingkungan secara berkelanjutan.
Upaya tersebut menunjukkan bahwa program keanekaragaman hayati tidak berhenti pada penanaman pohon atau penghijauan, tetapi dilanjutkan dengan pemeliharaan secara rutin, termasuk memastikan tanaman memperoleh air yang cukup saat musim kering.
Di saat sebagian lingkungan lain mulai terlihat kering, rumput di lingkungan MTsN 2 Sumbawa Barat masih tetap hijau. Bagi sekolah, mempertahankan kondisi tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab dalam merawat lingkungan sekolah.
Koordinator Program Adiwiyata MTsN 2 Sumbawa Barat, Amrullah, S.Pd., yang juga Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, mengatakan kegiatan lingkungan di sekolah telah diprogramkan secara terencana.
Menurutnya, penyusunan program tidak dilakukan oleh satu pihak saja, tetapi melibatkan seluruh guru dan kader Adiwiyata. Dalam pelaksanaannya, seluruh unsur sekolah juga saling mendukung.
“Program lingkungan di sekolah sudah kami susun dan programkan dengan baik. Dalam pembuatannya melibatkan semua guru dan kader Adiwiyata, sehingga dalam pelaksanaannya semua saling mendukung,” ujar Amrullah.
Tidak Semua Sampah Tidak Berakhir di TPA
Selain menjaga kehijauan sekolah, MTsN 2 Sumbawa Barat juga menerapkan pengelolaan sampah secara komprehensif. Sampah dipilah dan dikelola sesuai jenisnya agar tidak seluruhnya berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA).
Salah satu inovasi yang cukup menonjol adalah pemanfaatan sampah kaca yang berpotensi menjadi residu dan menimbulkan risiko bagi lingkungan jika tidak dikelola dengan benar. Di MTsN 2 Sumbawa Barat, sampah kaca diolah sebagai bahan substitusi sebagian pasir dalam pembuatan batako. Upaya ini tidak semata-mata berorientasi pada produk yang dihasilkan, tetapi lebih menitikberatkan pada pengelolaan sampah kaca secara tepat dan aman agar tidak mencemari lingkungan maupun membahayakan warga sekolah.
Melalui inovasi ini, sampah kaca yang sebelumnya berpotensi menjadi residu dapat dimanfaatkan kembali sehingga mengurangi jumlah sampah yang diangkut ke TPA sekaligus memberikan nilai guna baru sebagai bahan konstruksi.
Pengelolaan sampah tersebut menjadi bagian dari upaya sekolah membangun budaya pengelolaan sampah dari sumbernya. Siswa tidak hanya diajarkan untuk menempatkan sampah pada wadah yang benar, tetapi juga memahami bahwa sampah yang dipilah dapat dikelola dan dimanfaatkan kembali.
Mushalla Dirancang Ramah Lingkungan
Komitmen terhadap lingkungan juga terlihat pada desain mushalla sekolah. Bangunan tersebut dirancang dengan konsep ramah lingkungan dan hemat energi.
Pencahayaan alami dimanfaatkan melalui desain ruang yang terbuka sehingga pada siang hari tidak selalu membutuhkan penerangan listrik. Demikian pula dengan sirkulasi udara yang dirancang agar memanfaatkan angin alami sehingga mushalla tidak menggunakan kipas angin.
Konsep tersebut merupakan bentuk pemanfaatan energi yang telah disediakan alam, terutama cahaya matahari dan angin, sehingga penggunaan energi listrik dapat ditekan.
Bagi MTsN 2 Sumbawa Barat, konservasi energi tidak hanya menjadi materi pembelajaran, tetapi juga diterapkan melalui fasilitas dan aktivitas sehari-hari di lingkungan sekolah.
Air Dimanfaatkan Kembali
Upaya konservasi air juga menjadi bagian penting dalam pengelolaan lingkungan sekolah. Air buangan dari kolam serta air bekas wudhu dan wastafel dimanfaatkan kembali untuk penyiraman tanaman.
Praktik tersebut menerapkan prinsip sederhana bahwa air yang masih dapat dimanfaatkan tidak langsung dibuang, tetapi digunakan kembali untuk kebutuhan yang sesuai.
Terlebih pada musim kering, pemanfaatan kembali air menjadi semakin penting untuk membantu memenuhi kebutuhan penyiraman tanaman.
Lingkungan Menjadi Bagian dari Pembelajaran
Program lingkungan di MTsN 2 Sumbawa Barat tidak hanya dilaksanakan melalui kegiatan aksi, tetapi juga diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran. Sekolah telah menetapkan kebijakan pengintegrasian pendidikan lingkungan hidup ke dalam mata pelajaran melalui penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang memuat lima aspek utama, yaitu kebersihan, sanitasi dan drainase; pengelolaan sampah; keanekaragaman hayati; konservasi energi; serta konservasi air.
Integrasi ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk menghubungkan pengetahuan yang diperoleh di kelas dengan praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran tidak hanya berorientasi pada pemahaman teori, tetapi juga mendorong terbentuknya sikap dan perilaku peduli lingkungan.
Implementasinya diwujudkan melalui berbagai aksi nyata, seperti memilah dan mengolah sampah, merawat tanaman, menghemat energi, memanfaatkan kembali air, serta menjaga kebersihan, sanitasi, dan drainase lingkungan sekolah. Melalui pendekatan ini, siswa dilibatkan secara aktif dalam membangun budaya peduli lingkungan yang diharapkan dapat diterapkan secara konsisten, baik di sekolah, rumah, maupun lingkungan masyarakat.
Untuk memperkuat pembelajaran keanekaragaman hayati, sekolah juga menyediakan informasi mengenai berbagai jenis tanaman yang tumbuh di lingkungan sekolah melalui teknologi barcode. Dengan memindai barcode yang tersedia, siswa, warga sekolah, maupun pengunjung dapat mengakses informasi mengenai tanaman tersebut.
Inovasi ini menjadikan kawasan hijau sekolah tidak hanya berfungsi sebagai ruang terbuka hijau, tetapi juga sebagai sarana edukasi dan sumber belajar keanekaragaman hayati berbasis teknologi. Dengan demikian, lingkungan sekolah menjadi ruang pembelajaran terbuka yang dapat dimanfaatkan oleh siapa saja untuk mengenal dan meningkatkan kepedulian terhadap keanekaragaman hayati.
Semua Warga Sekolah Terlibat
Keberhasilan program lingkungan di MTsN 2 Sumbawa Barat tidak hanya ditentukan oleh keberadaan sarana dan program. Keterlibatan seluruh warga sekolah menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutannya.
Guru dan siswa terlibat dalam berbagai aksi lingkungan, termasuk pemeliharaan tanaman dan pengelolaan sampah. Pada musim kering seperti sekarang, kegiatan penyiraman menjadi salah satu aktivitas rutin untuk mempertahankan ruang hijau sekolah.
Apa yang terlihat di MTsN 2 Sumbawa Barat menunjukkan bahwa sekolah Adiwiyata bukan sekadar sekolah yang memiliki banyak tanaman atau fasilitas lingkungan. Lebih dari itu, Adiwiyata merupakan proses membangun kebiasaan dan budaya peduli lingkungan yang dilakukan secara bersama-sama dan terus-menerus.
Musim kering justru menjadi momentum untuk menguji konsistensi tersebut. Ketika air terbatas dan tanaman membutuhkan perhatian lebih, kepedulian lingkungan diuji melalui tindakan nyata.
MTsN 2 Sumbawa Barat memilih untuk tetap menjaga hijaunya lingkungan sekolah. Air diupayakan, energi dihemat, sampah dikelola, tanaman dirawat, dan seluruh warga sekolah dilibatkan.
Dari halaman sekolah yang tetap hijau di tengah musim kering, terlihat satu pesan sederhana: “lingkungan yang asri bukan hanya karena alam menyediakan, tetapi karena manusia mau merawatnya”.













