Masyarakat Orong Telu Tuntut Pemerataan Pembangunan Jalan: “Kami Juga Bagian dari Sumbawa”

Sumbawa Besar, Kliksumbawa.com (11 Juli 2025) – Suara kekecewaan mulai menggema dari masyarakat Kecamatan Orong Telu, Kabupaten Sumbawa, menyusul ketimpangan alokasi anggaran pembangunan infrastruktur jalan pada tahun anggaran berjalan. Warga menilai distribusi proyek jalan dinilai tidak proporsional dan kurang mencerminkan kebutuhan faktual di lapangan, terutama bagi wilayah yang selama ini terpinggirkan dalam peta pembangunan.

Tokoh pemuda Orong Telu, Hendra Jaya, menyoroti kondisi memprihatinkan jalur utama Teladan–Orong Telu yang hingga kini belum tersentuh pembangunan secara memadai. Di sisi lain, dua ruas besar yang mengarah ke Batudulang–Tepal dan Tepal–Baturotok justru mendapat alokasi anggaran mencapai sekitar Rp283 miliar, jauh melampaui alokasi untuk ruas Lenangguar–Teladan yang mengarah ke Orong Telu dan hanya mendapat sekitar Rp29 miliar.

“Jika kita bicara urgensi, seharusnya ruas Teladan–Orong Telu menjadi prioritas. Pembangunan jalan ke Batudulang dan Tepal memang penting, tetapi jangan sampai wilayah lain yang lebih terisolasi seperti Orong Telu terus-menerus dianaktirikan,” tegas Hendra Jaya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Hasbianto, S.Pd, salah satu tokoh masyarakat Orong Telu. Menurutnya, pemberitaan dan kebijakan pembangunan belakangan ini terlalu terfokus pada kawasan Batudulang dan Tepal, seolah-olah menjadi satu-satunya wajah selatan Sumbawa.

“Kami sudah cukup bersabar. Jangan sampai muncul kesan bahwa pembangunan hanya untuk segelintir wilayah yang dianggap strategis. Orong Telu ini bagian sah dari Sumbawa dan akses jalannya sangat krusial bagi masyarakat,” ungkapnya.

Masyarakat Orong Telu, lanjutnya, tengah mempersiapkan langkah kolektif untuk menyuarakan aspirasi secara formal. Salah satunya adalah dengan mengirimkan surat resmi kepada Bupati Sumbawa dan meminta jadwal audiensi terbuka guna menyampaikan langsung harapan dan keprihatinan mereka.

“Kami tidak sedang meminta keistimewaan, hanya ingin keadilan pembangunan. Tahun depan, Orong Telu harus masuk prioritas perencanaan jalan,” tegas Hasbianto.

Desakan ini dinilai wajar jika merujuk pada data faktual di lapangan. Ruas jalan Lenangguar–Teladan yang menjadi satu-satunya akses darat menuju Orong Telu memiliki panjang 7,4 km, namun hingga kini baru 1,6 km yang tertangani. Sementara jalan dari Batudulang–Tepal dan Tepal–Baturotok telah dikerjakan lebih dari 27 km dengan dukungan enam jembatan besar di dalamnya.

Berdasarkan data yang dirilis Pemkab Sumbawa melalui media lokal, total anggaran pembangunan tiga ruas jalan pada 2025 mencapai Rp329 miliar, dengan rincian:

Batudulang–Tepal: 27,4 km (18,7 km tertangani, lanjut 8,7 km)

Tepal–Baturotok: 11 km (termasuk 6 jembatan besar)

Lenangguar–Teladan: 7,4 km (1,6 km tertangani, sisanya belum terjangkau)

Jika dijumlahkan, nilai proyek untuk dua ruas yang mengarah ke Batudulang dan Tepal menyerap sekitar 86% dari total anggaran, sementara jalan menuju Orong Telu hanya mendapatkan kurang dari 10%.

Keluhan masyarakat Orong Telu bukan sekadar keluhan sepihak, melainkan refleksi dari ketimpangan distribusi pembangunan infrastruktur. Ruas jalan menuju Orong Telu bukan hanya jalur logistik dan mobilitas warga, tetapi juga penghubung antar-kecamatan dan jalur utama distribusi hasil pertanian dan perkebunan warga pedalaman.

“Pembangunan jalan bukan semata proyek fisik, tetapi bentuk nyata kehadiran pemerintah di daerah terpencil. Kami tak ingin terus berada di sudut yang dilupakan,” pungkas Hendra. (KS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *