Petani Kopi Tangkam Pulit Terjepit BBM Mahal Non Subsidi Harga Rp 20 ribu

SUMBAWA,Kliksumbawa.com (26 Juni 2026) — Desa Tangkam Pulit, Kecamatan Batulanteh, hanya bisa dijangkau melalui jalan berbatu, berlumpur, serta harus menyeberangi belasan aliran sungai.

Bagi Sulman dan ratusan petani kopi di wilayah ini, menanam dan memanen bukan sekadar mata pencaharian, melainkan perjuangan menghadapi dua tantangan besar: kesulitan akses bahan bakar dan cuaca yang semakin tak menentu akibat perubahan iklim.

Bahan bakar menjadi kebutuhan utama untuk menggerakkan mesin pengolah kopi, mengeringkan biji, hingga mengangkut hasil panen ke pasar. Namun letak geografis yang terisolasi membuat BBM jenis subsidi nyaris tidak tersedia di daerah ini.

“Kalau butuh bensin, kami tidak punya pilihan selain beli Pertamax yang harganya sudah Rp20.000 per liter. Dua kali lipat lebih mahal dari harga subsidi,” ungkap Sulman Kamis (26/6/2026).

Selisih harga itu membebani biaya produksi. Setiap musim panen, pengeluaran untuk bahan bakar bisa menyedot hingga separuh keuntungan. Ditambah biaya perjalanan keluar desa, penghasilan yang diterima pun menjadi sangat tipis.

“Kadang saya hitung-hitung, hasil jual kopi hampir habis hanya untuk bayar bensin. Rasanya berat sekali, tapi kami tetap harus jalan,” keluhnya.

Perubahan Iklim Ubah Pola Panen, Hasil Menurun

Masalah lain datang dari alam. Selama puluhan tahun, Sulman bisa memprediksi kapan musim hujan dan kemarau tiba. Namun sejak beberapa tahun terakhir, pola cuaca berubah drastis.

“Dulu ritmenya jelas. Sekarang kemarau bisa datang lebih lama, membuat pohon kopi layu dan daunnya rontok. Kalau hujan terlalu deras, bunga kopi gugur sebelum jadi buah. Hasil panen bisa turun sampai separuh dari biasanya,” jelasnya.

Suhu dan kelembapan yang tidak stabil juga memicu serangan jamur dan hama tanaman. Karena modal terbatas, Sulman sulit membeli pupuk atau obat yang cukup untuk menyelamatkan kebunnya.

“Kopi adalah satu-satunya tumpuan hidup kami. Kalau alam tidak bersahabat dan biaya operasional makin tinggi, rasanya terjepit dari dua sisi,” tambahnya.

Akses jalan yang sulit juga membuat petani hanya bisa menjual kopi ke pengepul lokal dengan harga yang ditekan rendah. Mereka tidak punya kesempatan menjangkau pasar yang lebih luas.

Sulman berharap pemerintah dan pihak terkait memperhatikan nasib petani di daerah terpencil. Harapannya sederhana: distribusi BBM subsidi bisa menjangkau desa, atau ada skema bantuan energi khusus pertanian. Ia juga membutuhkan pendampingan teknis agar bisa beradaptasi dengan perubahan iklim.

“Kami tidak malas, bekerja keras setiap hari di lereng bukit. Berikan kami akses yang adil dan harga yang wajar. Biar kami tetap bisa menanam kopi, menjaga hutan, dan menghidupi keluarga meski tinggal di ujung jalan,” pungkasnya.(KS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *