SUMBAWA,Kliksumbawa.com (21 Juni 2026) – Wakil Ketua Komisi X DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, MY Esti Wijayati, SH. berkesempatan menghadiri peringatan Bulan Bung Karno yang dirangkaikan dengan Festival Muharam di Desa Poto, Kecamatan Moyo Hilir, Kabupaten Sumbawa, pada Sabtu malam (20/6). Melalui momentum tersebut, ia berkomitmen memberikan bantuan untuk Desa Poto yang telah ditetapkan sebagai desa percontohan pemajuan kebudayaan.
Komitmen ini disampaikan, menanggapi aspirasi kepala desa setempat, yang meminta bantuan program kebudayaan. Disamping itu komitmennya ini didasarkan pada pikiran bahwa anggota legislatif termasuk partai politik tidak boleh hadir saat pemilu saja. Tetapi selalu hadir mendengarkan dan memperjuangkan aspirasi masyarakat.
Esti mengungkapkan bahwa pihaknya tengah memperjuangkan anggaran kebudayaan di tingkat nasional. Namun, pembahasan anggaran tahun 2027 dinilai tidak mudah karena alokasi sementara untuk sektor kebudayaan mengalami penurunan drastis menjadi kurang dari Rp 1 triliun untuk seluruh Indonesia.
Meski demikian, ia memastikan masih terdapat sejumlah program yang akan diarahkan ke Desa Poto sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya. Bantuan tersebut dapat berupa atraksi budaya maupun bantuan peralatan penunjang.
“Insya Allah masih ada sedikit program yang salah satu titiknya nanti untuk Desa Poto. Bentuknya apa, bisa atraksi bisa bantuan alat,” jelasnya.
Esti mengapresiasi penyelenggaraan Festival Muharam yang bertepatan dengan rangkaian peringatan Bulan Bung Karno. Kegiatan tersebut mencerminkan komitmen masyarakat Desa Poto dalam melestarikan budaya luhur bangsa.
Ia kemudian mengingatkan arti pentingnya bulan Juni sebagai bulan Bung Karno yang memuat tiga momentum bersejarah bangsa.
Pertama hari lahir Pancasila pada 1 Juni, di mana Bung Karno berpidato merumuskan dasar negara di depan sidang BPUPKI (Badan Penyelidik untuk Persiapan Kemerdekaan Indonesia) bersama tokoh-tokoh bangsa seperti, Ki Bagus Hadikusumo, K.H. Wahid Hasyim, Muhammad Yamin dan tokoh lainnya. Kedua hari lahir Bung Karno pada 6 Juni 1901 dan ketiga hari wafatnya sang proklamator pada 21 Juni 1970.
“Bulan Bung Karno itu bulan Juni, bersamaan di bulan Juni juga peringatan Muharam. Jadi, pada kesempatan kita melaksanakan Festival Muharam dengan berbagai kegiatan budaya ini, semakin meneguhkan jati diri kita bahwa kita sebagai negara yang harus beragama atau berkeyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa tetap mempunyai kewajiban untuk melestarikan budaya adiluhur kita semua sebagai bangsa Indonesia,” kata Esti.
Ia mengingatkan semua pihak untuk tetap memperhatikan sejarah bangsa, termasuk melestarikan budaya. Sebagaimana tercantum dalam Trisakti Bung Karno, yakni Berdaulat di bidang politik, Berdikari di bidang ekonomi, dan Berkepribadian di dalam kebudayaan.
“Budaya yang ada ini, termasuk kegiatan dalam Festival Muharam ini harus kita lestarikan. Sebagai bentuk kepribadian dalam berkebudayaan untuk masyarakat Indonesia. Selamat Berfestival Muharam dalam rangka Bulan Bung Karno. Jangan melupakan sejarah, Jasmerah. Dan teruslah menancapkan di dada kita bendera merah putih yang kita cintai, dan menjaga NKRI. Tetap bersatu apa pun situasinya, jangan mudah terpecah belah, dan jangan terprovokasi,” tukasnya.
Sebelumnya, Kepala Desa Poto, Fathul Muin, S.P menyampaikan, bahwa Desa Poto sudah ditetapkan sebagai desa percontohan Pemajuan Kebudayaan oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan pada tahun 2019 lalu. Melalui gerakan pemajuan kebudayaan ini, Desa Poto terus merawat tiga obyek, yakni tradisi “Ponan” sebagai ritus adat, kemudian “Ratib” dan “Sakeco” yang merupakan seni tradisional, dan tenun “Kre Alang” yang merupakan teknologi tradisional. Karenanya, melalui momentum ini, pihaknya berharap kepada pemerintah pusat melalui Komisi X DPR RI dapat memberikan dukungan program untuk potensi pemajuan kebudayaan Desa Poto. Baik program pemberdayaan masyarakat pelaku kebudayaan, maupun dalam bentuk sarana dan prasarana.
Di sisi lain pihaknya juga menyampaikan terima kasih kepada Pemda Sumbawa yang selama ini cukup memberikan perhatian kepada eksistensi Desa Poto sebagai desa pemajuan kebudayaan.
Ke depan, ia berharap melalui sinergi program pemerintah pusat dan kabupaten, Desa Poto bisa menjadi pusat edukasi kebudayaan berbasis badan linier nasionalisme.
“Kami berharap sinergi antara dukungan pemerintah pusat dengan kebijakan pemerintah kabupaten, saya kira itu yang sangat memungkinkan desa kami bisa bertransformasi sebagai pusat edukasi kebudayaan berbasis badan linier nasionalisme,” harap Kades Poto.
Peringatan Bulan Bung Karno yang dirangkaikan dengan Festival Muharram di Desa Poto turut dihadiri Wakil Bupati Sumbawa Muhammad Ansori, Wakil Ketua II DPRD Sumbawa Gitta Liesbano, Ketua Koni Sumbawa Abdul Rafiq, Camat, Kepala Desa, serta masyarakat setempat.(KS)
