SUMBAWA, Kliksumbawa.com (29 September 2026)- Bupati Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot, M.P., membuka Sosialisasi dan Optimalisasi Penyaluran Pupuk Bersubsidi Sektor Perikanan di Desa Penyaring, Kecamatan Moyo Utara, Senin, 28 September 2026.
Kegiatan dihadiri Direktur Prasarana dan Sarana Ditjen Perikanan Budidaya KKP RI, Pimpinan Pupuk Indonesia, Asisten Deputi Pengembangan Perikanan Budidaya Kemenko Pangan, Kepala Balai Perikanan Budidaya Laut Lombok, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Sumbawa, serta sejumlah kepala OPD.
Bupati H. Jarot menyampaikan apresiasi atas perhatian pemerintah pusat terhadap pengembangan perikanan budidaya di Sumbawa, termasuk melalui dukungan pupuk bersubsidi.
Sumbawa disebut memiliki potensi kelautan dan perikanan yang besar, termasuk Teluk Saleh, sekaligus menekankan pentingnya menjaga ekosistem pesisir. Menurutnya, pupuk bersubsidi menjadi kabar baik bagi pembudidaya yang selama ini harus bersaing memperoleh pupuk dengan sektor pertanian.
“Alhamdulillah, Sumbawa mendapatkan kuota terbesar di Provinsi NTB. Pupuk bukan sekadar pelengkap, pupuk adalah kunci untuk menumbuhkan pakan alami berupa plankton. Kalau plankton ada, udang dan ikan di tambak tidak akan mati dan produktivitas akan naik,” jelasnya.
Pada kesempatan tersebut, H. Jarot meminta Dinas Kelautan dan Perikanan bersama penyuluh mempercepat pendataan dan validasi pembudidaya, khususnya di wilayah pesisir yang belum terdata. Penebusan pupuk dilakukan secara digital untuk memastikan pupuk diterima pembudidaya yang memenuhi ketentuan.
“Jangan sampai kuota yang disiapkan tidak terserap karena data belum lengkap,” tegasnya. Ia juga mengimbau pembudidaya menggunakan pupuk sesuai dosis dan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan.
Sementara itu, Direktur Prasarana dan Sarana Ditjen Perikanan Budidaya KKP RI, Enggar Sadtopo, menyampaikan Sumbawa mendapat alokasi pupuk bersubsidi terbesar di NTB, yakni 1.000 ton atau 1 juta kilogram.
“Untuk Sumbawa ini paling besar, 1.000 ton sendiri. Kalau kabupaten lain 480 ton. Jadi ada 1.000 ton atau 1 juta kilogram yang bisa Bapak-Ibu manfaatkan,” ujarnya.
Enggar menyebut alokasi tersebut menjadi peluang meningkatkan produksi dan kesejahteraan pembudidaya. Namun, dari kuota 1.000 ton, baru 99 pembudidaya yang tercatat sehingga pendataan dan validasi perlu dipercepat.
Ia menargetkan pupuk bersubsidi dapat tersalurkan dan dimanfaatkan secara optimal pada Oktober mendatang. Jika kebutuhan meningkat, tambahan alokasi dapat diusulkan untuk tahun berikutnya. Salah satu pupuk yang disubsidi adalah Urea dengan harga Rp1.800 per kilogram.(ks)
