SUMBAWA,Kliksumbawa.com (8 Juli 2026) – Kawasan pesisir Desa Labuhan Alas mulai dihijaukan lewat penanaman mangrove dalam aksi “Mangrove For Life”, Senin (7/7/2026).
Langkah konkret ini dipimpin langsung oleh Bupati Sumbawa Ir. H. Syarafuddin Jarot, M.P., bersama Menteri Lingkungan Hidup RI dan PT Freeport Indonesia dan Gubernur NTB sebagai wujud nyata mendukung gerakan Tobat Ekologis Nasional.
Aksi ini merupakan bagian dari gerakan nasional Tobat Ekologis dengan target penanaman 2 miliar pohon demi mewujudkan keadilan iklim menuju Indonesia Asri.
Dalam sambutannya, Bupati Sumbawa Syarafuddin Jarot menegaskan bahwa Kabupaten Sumbawa telah mengawali semangat tobat ekologis melalui program lokal Sumbawa Hijau Lestari. Through program ini, Pemkab Sumbawa berhasil menanam satu juta pohon sepanjang periode 2025–2026.
”Kita sudah mendukung program nasional tersebut secara nyata. Tahun ini saja, satu juta pohon sudah tertanam di Sumbawa melalui 13 kali safari dari gunung ke gunung. Kami mewajibkan anak sekolah, pegawai negeri, hingga pasangan yang menikah untuk menanam pohon,” ujar Bupati.
Ia menambahkan, Pemkab Sumbawa juga telah menandatangani MoU dengan Gubernur NTB terkait pengelolaan hutan. Langkah ini menjadikan Sumbawa sebagai satu-satunya kabupaten yang mendapat lampu hijau dari provinsi untuk mengelola hutan secara mandiri. “Insyaallah, volume penanaman akan kita tingkatkan lagi,” imbuhnya.
Menteri Lingkungan Hidup, Mohammad Jumhur Hidayat, mengapresiasi kolaborasi multipihak ini. Ia memaparkan bahwa PT Freeport Indonesia menanam total 445 hektare mangrove di lokasi tersebut, dari total hampir 500 hektare yang dialokasikan di NTB.
Jumhur mengingatkan pentingnya menjaga ekosistem pesisir karena daya serap emisi karbon mangrove mencapai empat hingga lima kali lipat dibanding pohon biasa.
”Mangrove bukan sekadar pohon. Jika ekosistemnya subur, ada perputaran ekonomi di sana—menjadi habitat ikan dan kerang, potensi ekowisata, hingga bahan baku sirup. Kami berharap gerakan pemulihan lingkungan lewat Tobat Ekologis Nasional ini terus dikobarkan,” kata Jumhur.
Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, Tony Wenas, menjelaskan bahwa NTB dipilih karena memiliki ekosistem, struktur tanah, dan kondisi air laut yang sangat mendukung pertumbuhan mangrove.
”Di luar Papua, NTB menjadi wilayah dengan porsi penanaman terbesar bagi kami. Target Freeport adalah menanam 2.000 hektare di luar Papua dan 10.000 hektare di Papua. Kami optimistis target ini bisa tercapai dalam waktu dekat,” ungkap Tony.
Gubernur NTB, Lalu Muhammad Iqbal, turut mengapresiasi kontribusi Freeport dan mendorong perusahaan penghasil emisi lainnya di NTB untuk mengambil langkah serupa. Mengingat potensi garis pantai NTB yang luas, pemprov kini tengah mempersiapkan langkah strategis baru.
”Pemerintah provinsi akan menyiapkan BUMD khusus yang menangani carbon trading (perdagangan karbon). Ini adalah kontribusi nyata NTB untuk Indonesia dalam menyerap emisi,” jelas Iqbal.
Gubernur juga menekankan pentingnya pembenihan spesies mangrove langka dan unik yang tersebar di berbagai wilayah NTB, yang nantinya akan dikoordinasikan lebih lanjut bersama pemerintah daerah.
Aksi “Mangrove For Life” di Desa Labuhan Alas ini menjadi bukti nyata sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan sektor swasta dalam memulihkan lingkungan demi masa depan yang lebih asri. (KS)













