Foto: Fasilitas peleburan (smelter) PT Amman Mineral Nusa Tenggara di Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB).
SUMBAWA BARAT,Kliksumbawa.com (23 Juli 2026) – Dari kejauhan, bangunan megah smelter berteknologi Double Flash milik PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) tampak berdiri kokoh menyatu dengan hamparan lahan pertambangan Batu Hijau di Kabupaten Sumbawa Barat.
Fasilitas yang menjadi wujud nyata hilirisasi mineral nasional ini bukan sekadar deretan mesin dan pipa yang berputar menghasilkan keuntungan semata.
Bagi Kabupaten Sumbawa Barat, smelter ini adalah pintu gerbang harapan sekaligus tulang punggung ekonomi yang selama ini ditunggu-tunggu untuk mengangkat derajat daerah dan kesejahteraan masyarakatnya.
Perjalanan menuju operasi penuh tidaklah mulus. Sejak pertama kali memulai uji coba operasional pada Juni 2024, fasilitas berkapasitas olah 900 ribu ton konsentrat per tahun ini menghadapi badai tantangan teknis yang tak terduga.
Kebocoran pada peralatan pendingin asam hingga percikan api ringan di tungku peleburan pada awal 2025 sempat menghentikan putaran mesin, menekan target produksi, dan memunculkan kekhawatiran besar di kalangan pemangku kepentingan maupun warga sekitar: apakah smelter ini benar-benar bisa diandalkan dalam jangka panjang? Apakah risiko yang pernah terjadi tidak akan terulang kembali?
Kini, setelah melalui perbaikan mendalam dan pengujian ulang yang ketat sejak akhir 2025, ada kabar yang melegakan sekaligus menegaskan komitmen keberlanjutan operasi.
Mulai April 2026, smelter ini kembali beroperasi stabil. Per Juni 2026, seluruh hasil konsentrat dari tambang Batu Hijau sudah bisa diolah langsung di lokasi, tanpa perlu dikirim keluar daerah maupun ke luar negeri.
“Pada saat ini saya bisa laporkan Pak Ketua dan Bapak Ibu yang terhormat bahwa pada sekitar bulan April 2026 kemarin operasi sudah mulai berjalan dan ramp-up berjalan dengan baik, sehingga pada sekitar bulan Juni 2026 itu kami sudah bisa memproses seluruh produksi yang dihasilkan oleh tambang saat ini,” ujar Presiden Direktur AMNT Rachmat Makasau dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI di Jakarta, Selasa 14 Juli 2026.
Smelter yang menggunakan teknologi setara dengan fasilitas pengolahan mineral kelas dunia tersebut dirancang dengan kapasitas masukan konsentrat mencapai 900 ribu ton per tahun, yang diproyeksikan menghasilkan 220 ribu ton katoda tembaga, 18 ton emas, 55 ton perak, dan 77 ton selenium setiap tahunnya.
“Jadi memang kapasitasnya adalah 900 ribu ton, dalam beberapa minggu operasi kapasitas maksimum atau mendekati maksimum sudah bisa dicapai sehingga kami yakin sepenuhnya bahwa seluruh hasil konsentrat yang dihasilkan tambang tahun ini bisa diserap sepenuhnya oleh fasilitas ini,” tegas Rachmat.
Hingga akhir tahun 2026, AMNT menargetkan realisasi produksi katoda tembaga sebesar 162 ribu ton, 16 ton emas, dan 45 ton perak. Selain itu, perusahaan juga mulai memproduksi telurium sebesar 1,96 ton serta produk sampingan berupa asam sulfat yang diperkirakan mencapai 572 ribu ton pada tahun ini.
Seluruh hasil produksi tersebut diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan industri dalam negeri, dan baru akan mempertimbangkan ekspor—terutama katoda tembaga—jika kapasitas produksi telah mencapai tingkat maksimal secara konsisten. Langkah ini sekaligus menjadi bukti nyata kontribusi smelter dalam memperkuat kemandirian industri nasional dan mendorong perputaran ekonomi di Sumbawa Barat.
Antara Kelancaran Produksi dan Jaminan Keamanan
Dalam sidang dengar pendapat tersebut, sorotan tidak hanya tertuju pada angka-angka produksi yang menjanjikan. Anggota DPR dari Fraksi Gerindra, Muhammad Rohid, mengapresiasi kedua perusahaan tambang yaitu Freeport dan AMMAN.
Menurutnya, khusus AMMAN dengan tegas mengaitkan kelangsungan operasi smelter dengan aspek keselamatan dan keandalan sistem sebagai pondasi utama keberlanjutan.
“Kami butuh jaminan yang nyata, gangguan serupa tidak boleh terulang lagi. Ini bukan sekadar soal target produksi atau keuntungan semata, melainkan menyangkut keselamatan nyawa pekerja, masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi, serta kelestarian lingkungan hidup yang menjadi aset bersama generasi mendatang,” ujar Rohid salah satu anggota Komisi XII.
Menanggapi kekhawatiran tersebut, Rachmat Makasau menegaskan bahwa pihaknya telah melakukan evaluasi total terhadap seluruh sistem dan peralatan yang bermasalah.
“Kami meningkatkan frekuensi pemeliharaan berkala, menyempurnakan desain peralatan bersama pihak produsen, dan menjadikan prinsip Zero Fatality atau tanpa korban jiwa sebagai aturan mutlak yang tidak bisa ditawar. Kami yakin telah menemukan solusi tepat agar kejadian serupa tidak terulang, namun kami juga akan terus melakukan pemantauan ketat secara berkelanjutan,” jelasnya.
Meski demikian, anggota dewan tetap meminta laporan berkala dan pengawasan yang diperketat untuk memastikan kesiapan mitigasi risiko selalu berjalan optimal sepanjang masa operasi.
Keberlanjutan Manfaat yang Harus Merata Dirasakan
Di samping aspek teknis dan keselamatan, isu terpenting yang menjadi penentu keberlanjutan secara menyeluruh adalah bagaimana hasil kekayaan alam ini dinikmati secara adil oleh seluruh pihak.
Sebagai salah satu penyumbang terbesar Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), smelter ini diharapkan tidak hanya memperkaya kas negara, melainkan benar-benar terasa dampaknya bagi masyarakat Sumbawa Barat.
Ia sangat mengapresiasi investasi besar yang telah ditanamkan untuk membangun fasilitas ini. Namun, jangan sampai masyarakat setempat hanya menjadi penonton dari kemajuan yang terjadi di tanah kelahirannya sendiri.
“Pastikan program pendidikan, pelayanan kesehatan, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat benar-benar menyentuh lapisan terbawah. Biar warga Sumbawa Barat juga ikut merasakan hasil nyata dari kekayaan alam yang mereka miliki,” kata Anggota Komisi XII dari Fraksi NasDem, Irsan Sosiawan Gading.
Dari Fraksi PKB, Hj. Ratna Juwita Sari, S.E., M.M., menyampaikan soal adanya force majeure terkait kebocoran tungku pada April 2025 yang menyebabkan gangguan operasi.
Namun disebutkan juga di halaman 7 bahwa smelter sudah beroperasi penuh pada April 2026. Ia mempertanyakan mengapa perbaikan permanen di area tersebut baru direncanakan lewat penghentian operasi (plant shutdown) pada Juni 2027?
Adakah jaminan keandalan operasi smelter untuk satu tahun ke depan, dan sejauh mana mitigasi yang disiapkan AMMAN untuk menjamin kecelakaan serupa tidak terulang? Hal ini tidak hanya membahayakan lingkungan, tetapi juga keselamatan manusia.
Sebagaimana peristiwa di Gresik sebelumnya, isu ini sangat sensitif. Oleh karena itu, kami berharap AMMAN telah menyiapkan langkah mitigasi khusus terkait keandalan operasional tersebut.
‘Tetap semangat, karena Bapak-Bapak ini adalah tulang punggung PNBP kita. Semoga upaya kita mendapat keridaan dari Allah SWT,” imbuhnya.
Dari Fraksi PKS, Jalal, mengapresiasi upaya yang dilakukan pada 2025 dan 2026 untuk memulihkan kinerja pasca-beberapa kejadian yang terjadi. Ia memohon perhatian kepada Freeport dan AMMAN bahwa prinsip Zero Fatality menjadi harga mati di dunia pertambangan. Keandalan smelter diharapkan menjadi perhatian utama pasca-peristiwa dua tahun terakhir.
“Terima kasih telah menyampaikan proyeksi untuk 2027 dan seterusnya, karena program 8 Asta Cita—terutama terkait ketahanan pangan, energi, dan air—sangat membutuhkan penerimaan yang sebesar-besarnya dari seluruh pemangku kepentingan bangsa ini, baik swasta maupun BUMN,” ujarnya.
Kemudian ia berharap hilirisasi tidak berhenti pada katoda tembaga saja.
“Kita memiliki tanggung jawab yang sama untuk mengisi kemerdekaan ini dengan kemakmuran bagi seluruh rakyat. Melalui hilirisasi, mudah-mudahan nilai tambah terus meningkat dan lapangan pekerjaan tercipta seluas-luasnya, sehingga kontribusi kita nyata bagi Indonesia,”jelasnya.
Ia menegaskan, bahwa target produksi dan penerimaan negara harus dikawal dengan baik. harapannya capaian produksi yang sudah berjalan dapat dikejar hingga akhir tahun karena masih tertinggal dari rencana kerja, sehingga tahun mendatang dapat kembali normal dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat.
Anggota DPR RI dari Fraksi PAN, Aqib Ardiansyah, menyampaikan bahwa pada prinsipnya pihaknya memahami keberadaan Freeport dan AMMAN yang memberikan manfaat besar bagi pertumbuhan ekonomi dan masyarakat.
Namun, ia mengingatkan bahwa zaman terus berkembang dan kebijakan berubah dengan sangat cepat. Budaya korporat (corporate culture) AMMAN dan Freeport harus senantiasa beradaptasi dengan kondisi masa kini yang jauh berbeda dari sebelumnya.
Diperlukan evaluasi menyeluruh terhadap budaya kerja yang selama ini dianggap sudah nyaman. Era saat ini yang sangat berfokus pada isu lingkungan dan pemberdayaan masyarakat adalah sebuah tuntutan. Ia menekankan perlunya evaluasi komprehensif, termasuk perhatian terhadap masyarakat Papua dan NTB yang dirasakan masih kurang mendapat perhatian yang layak.
Ketua Komisi XII DPR RI, Bambang Patijaya, menanyakan terkait limbah sisa pengolahan (tailing) yang dihasilkan, apakah terdapat potensi Logam Tanah Jarang (LTJ) di dalamnya. Hal ini dinilai memiliki potensi yang sangat besar jika benar-benar ditemukan.
“Terkait pemeliharaan (maintenance), kami meningkatkan frekuensi pengecekan. Seluruh temuan dari investigasi kejadian tersebut juga kami catat dan sampaikan kepada pihak produsen peralatan, terutama untuk penyempurnaan peralatan yang akan dipasang berikutnya. Khusus untuk dua peralatan tersebut, kami sangat yakin telah memiliki solusi agar kejadian serupa tidak terulang,” Jelas Rachmat Makasau memberikan tanggapan.
Dia juga mengungkapkan, bahawa dalam proses pengujian operasional (commissioning) banyak kendala yang dihadapi. Masalah yang muncul saat tahap pengujian dan peningkatan kapasitas (ramp-up) juga menjadi perhatian serius. Karena sempat menghambat produksi.
Terkait Logam Tanah Jarang, Rachmat Makasau menegaskan, bahwa pihaknya telah melakukan kajian dan kandungannya sangat kecil, bahkan dalam beberapa pemeriksaan tidak terdeteksi.
Dia juga menyampaikan, bahwa sampai saat ini, smelter sudah mampu memproses seluruh hasil produksi tambang. Namun pada tahun ini, perkiraan produksi tambang hanya sekitar 650 ribu ton, sementara kapasitas smelter mencapai 900 ribu ton. Apakah fasilitas mampu memproses 900 ribu ton dalam satu tahun?
Pengujian selama dua bulan terakhir katanya menunjukkan kemampuan tersebut dapat dicapai. Tantangan ke depan adalah meningkatkan kapasitas produksi tambang, mengingat kapasitas dasar (baseline) smelter adalah 900 ribu ton, sedangkan dalam beberapa tahun ke depan produksi konsentrat ditargetkan mencapai satu juta ton.
Harapan ini pun meluas ke arah pengembangan industri yang lebih maju kedepannya, hilirisasi tidak boleh berhenti hanya pada produksi katoda tembaga saja.
Nilai tambah harus terus ditingkatkan melalui pengolahan lanjutan, agar rantai pasok industri mineral nasional semakin kuat, mampu menyerap lebih banyak tenaga kerja lokal, dan mewujudkan cita-cita kemandirian ekonomi yang berkelanjutan sesuai dengan arah kebijakan pembangunan nasional.
Tata Kelola Lingkungan dan Tanggung Jawab Bersama
Terkait pengelolaan limbah sisa pengolahan atau tailing, Komisi XII mendesak penanganan yang paling serius, terukur, dan bertanggung jawab jangka panjang.
Meskipun studi awal yang dilakukan perusahaan menunjukkan kandungan Logam Tanah Jarang di dalamnya tidak signifikan, komitmen menjaga keseimbangan ekosistem tetap menjadi syarat mutlak yang tidak bisa diabaikan dalam menjamin keberlanjutan operasi.
Di penghujung sidang, satu kesepakatan bulat terucap dari seluruh perwakilan fraksi: keberlanjutan smelter AMMAN bukanlah tanggung jawab perusahaan semata. Keberhasilan fasilitas ini dalam membawa manfaat jangka panjang membutuhkan kerja sama erat yang saling menguatkan antara pengelola perusahaan, pemerintah pusat dan daerah, serta partisipasi masyarakat luas.
Asap yang mengepul dari cerobong smelter Batu Hijau bukan sekadar tanda bahwa mesin produksi berjalan lancar. Ia telah berubah menjadi simbol sebuah janji yang harus dijaga bersama: bahwa kekayaan alam Sumbawa Barat dikelola dengan penuh kehati-hatian, aman bagi seluruh makhluk hidup, membawa manfaat ekonomi yang nyata dan merata, serta diwariskan dengan baik demi kesejahteraan generasi mendatang. Sebuah perjalanan panjang yang masih harus terus dijaga, diawasi, dan didukung bersama. (KS)
